“Inilah, lelaki yang pernah kuceritakan. Lelaki yang hadir bersama embun. Ketika mentari belum membagi kehangatannya, ketika bisik pasir belum tertimpa cahaya, ketika desau angin terlalu dingin membekukan. Disinilah semua berawal. Di negeri diatas awan...”
Pukul 4.30, waktu menjelang subuh. Terlalu dini dan terlalu memilukan untuk bertahan dalam suhu 0 derajat bahkan mungkin minus sekian derajat celcius. Teh panas tidak lagi berarti, sedikit kehangatannya pun tidak lagi bisa didapati.
Kutapaki anak tangga menuju tempat dimana aku bisa menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan. Salah satu dari banyaknya keindahan ciptaanNya yang tidak lagi bisa dihitung. Termasuk keindahan cinta salah satunya.
Masih terlalu sepi, hanya ada beberapa orang kepagian seperti aku. Jaket tebal kuning, celana jeans, sepatu cads dan syal tebal tidak sanggup untuk menahan dingin. Tempat ini bernama centre point, tempat dimana kita bisa menyaksikan keindahan sunrise, merasakan kehangatan matahari, merasakan seperti berada diatas awan, dan menyaksikan gagahnya mahameru.
Aku tak sabar menantikan matahari mengintip dari celah-celah awan. Tak sabar menantikan kehangatannya, sungguh keindahan dan kehangatan matahari adalah satu-satunya hal yang dinanti ketika berada ditempat sedingin dan sebeku ini.
Waktu berlalu, pengunjung-pengunjung lain berdatangan memadati centre point. Tempat dimana tadinya kupikir bisa bebas menikmati cahaya matahari seorang diri, ternyata terpaksa harus berbagi. Tapi tak mengapa, bukankah matahari tak pernah kehabisan kehangatannya, meski dibagi pada seluruh isi dunia.
Tempat ini cukup digemari banyak kalangan, bahkan turis mancanegara pun tak mau melewatkan keindahan sunrise dari tempat ini. Ah, aku tak mau menebak-nebak dari mana saja asal mereka. Terlalu banyak, terlalu ramai disini. Turis berwajah eropa, berwajah timur tengah, berwajah perpaduan arab-perancis, pengunjung lokal.
Semua dari mereka sibuk dengan cara masing-masing dalam menikmati hadirnya matahari. Asyik memfotonya, atau berfoto-foto dengan kerabatnya. Beberapa pengunjung lokal berwajah cupu meminta foto bersama pria bule. Menggelikan. Pria bule itu memang cukup tampan.
Kurentangkan tanganku , merasakan cahaya matahari menelusup, memelukku hangat. Beginilah caraku menikmatinya...(Bersambung)
Bromo tengger semeru
-Puan Ryanna-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar