“Rasa yang pernah aku janjikan. Dulu pernah kukatakan, biar apapun yang kualami, rasa ini utuh. Tetap utuh sampai suatu nanti. Entah kapan...”
Perasaan yang menyeruak menyesaki dada. Ketika beberapa saat tadi aku sampai dikota ini. Kakiku masih terpaku dikoridor panjang dengan deretan bunga crhysant ditengahnya. Deretan bunga berwarna merah dan kuning yang dulu kerap kali aku kagumi, hingga kini.
Pemandangan ini memaksaku untuk menyelami masa lalu. Otakku seperti dipaksa memutar ulang adegan-adegan yang dimana aku berlaku sebagai pemeran utamanya. Cerita tentang sang putri yang ditinggal pangerannya. Disini, ditempat ini semua itu terjadi.
Sepuluh tahun dan semua tetap sama. Sedikitpun tak ada yang berubah, hanya mungkin aku yang menua. Waktu itu aku duapuluh lima, dan dia tigapuluh delapan. Kami membuat janji untuk bertemu disini, dikota dimana aku sangat meggilai dunia fotografi, dan dia, si turis mancanegara yang menggilai kuliner seafood.
Pertemuan singkat, cinta kilat. 35 jam berlalu dan tiba saatnya untuk kami berpisah. Disini, dibandara ini. Kupeluk erat tubuh tegap 187cm nya, sangat erat hingga aku bisa merasakan aroma papermint menguar dari nafasnya. Dia mengusap lembut punggungku, berkali-kali mencium keningku.
Perpisahan yang dramatis. Aku baru saja belajar jatuh cinta padanya. Baru saja mengumpulkan rasaku yang berserak tak menentu, baru saja menikmati kebersamaan yang indah dengan seseorang yang sangat memanjakanku. Bisakah waktu berhenti sejenak, sampai aku puas bersamanya, sampai aku pias.
Airmataku tak lagi terbendung ketika melepas jabat tangannya. Kusaksikan dia melangkah menjauh, cinta ini membuncah, rindu ini merobek kewarasanku. Aku terduduk, menangis terisak. Peduli apa dengan mereka yang keheranan menyaksikan aku yang seperti hilang kewarasan, apakah mereka tak pernah merasakan cinta yang begitu dalam? Atau rasa ketakutan? Takut jika cinta itu tak akan pernah kembali, selamanya...
Sepuluh tahun, dan memoar itu ternyata masih utuh kusimpan. Juga rindu, juga cinta, semuanya masih utuh mengendap didada. Sepuluh tahun tak berarti apa-apa, bahkan jikapun harus seumur hidup mencintai tanpa memilikimu, tanpa memandang kembali wajahmu, aku tak mengapa...
Taksiku berhenti didepan pintu kaca, didepan bangunan menjulang tinggi, didepan sebuah hotel ternama dikota ini. Kulangkahkan kaki dengan anggun memasuki hotel beraksen woody yang clasic. Senyumku mengiring, kuedarkan pandangan pada interior ruangan dan orang-orang yang ada didalamnya.
Mataku menangkap sosok cinta, sosoknya. Sepuluh tahun dan dia ada disana. Disofa merah, dengan handphone ditangan. Raut wajahnya masih tetap sama, semuanya masih sama, hanya jambangnya yang sedikit lebih lebat. Sepuluh tahun dan rasa itu masih ada ketika kembali memandangnya.
Mata kami beradu, pandangan kami bertemu. Sepuluh tahun dan dia masih menatapku dengan cinta, seperti sepuluh tahun yang lalu ketika pertama bertemu. Disini, ditempat ini. Dia yang duduk menungguku disofa merah itu. Sepuluh tahun atau seumur hidup, semua akan tetap sama. Aku tetap mencintaimu.
-Puan Ryanna-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar