Selasa, 17 Juni 2014

Autumn, here I am...

PROLOG  Perkenalkan, wanita yang pernah kujanjikan. Wanita bermata teduh, dengan senyum hangat dan rambut tergerai yang membingkai wajahnya. wanita yang penuh goresan luka dihatinya. Wanita yang teramat menggilai daun berguguran. Inilah dia, dia yang berdiri dan menengadahkan kedua tangan, berjejak diantara daun kering yang menguning. Inilah dia...

Dia memilih jalannya sendiri, membiarkan hatinya menelusuri celah sepi, membenamkan jiwanya dalam kepasrahan, membebaskan raganya untuk berlari sekencang yang ia mampu. Wanita ini... wanita yang pernah lelah menanti, wanita yang sekian kali dikhianati. Tapi meskipun lelah, senyumnya masih tetap indah, dan jika kali ini ia menutup hati, salahkah?

BAB I

Dipeluknya erat tubuh lelaki itu, lelaki berperawakan tinggi, berkulit putih dan wajah perpaduan Arab – Perancis. Sekuat tenaga disembunyikan airmata dari pelupuknya yang sendu. Lelaki itu diam memaku, tak bergeming apalagi membalas pelukannya. Suasana hening, teman-teman yang tadi tertawa riuh menyanyikan lagu selamat ulangtahun dan meniup lilin bersamanya, kini semua mematung dengan mimik wajah kosong. Kotak kecil berisi cincin masih erat digenggam oleh lelaki itu, wajahnya pias, gemuruh kekecewaan tak menentu bersarang dihatinya.

  “Apa aku terlambat? Adakah yang telah mendahuluiku?” suaranya terdengar parau
  “Tidak. Kamu satu-satunya, sejak dulu, saat ini, dan hingga entah kapan”
  “Lalu kenapa menolak untuk menikah denganku?” lelaki itu sedikit menghiba
  “Aku lelah menunggu...”
“Sekarang tidak lagi, tidak akan pernah kubuat kamu menunggu lagi”
Perempuan sendu itu melepaskan pelukannya, lalu beranjak pergi, meninggalkan lelaki tampan yang masih mematung tak mengerti, meninggalkan teman-teman yang menatap kebingungan, meninggalkan tepian kolam, meninggalkan kue ulangtahunnya di meja, meninggalkan pengharapan yang hancur berserakan. Dia berlalu, membiarkan mereka menatapi punggungnya yang pergi menjauh. membiarkan ribuan detik kenangan terbuang.

 Perempuan itu adalah Renata. Renata yang sekian lamanya menanti Adnane kambali, Renata yang tetap setia memegang janji walau hubungan mereka kian tak pasti, Renata yang tak pernah mampu menghapus cintanya, yang tak pernah bisa mengusik kenangan yang bersemayam indah dihatinya, yang tak bisa barang sedikit saja memadamkan rindu pada kekasihnya, kekasih yang dianggap telah melupakannya. Kekasih yang nyatanya kembali membawa bingkisan kebahagiaan. Tapi sayang, hatinya terlanjur lebih kaku dari pada beku. Tapi tidak dengan cintanya, cintanya tak pernah padam, tak akan pernah...

 Kini setelah tahun-tahun berlalu, tahun ke tujuh dan kenangan itu belum juga berlalu. Renata masih kukuh mempertahankan kenangan itu. Tak peduli waktu lambat laun mencipta guratan usia diwajahnya, tak peduli banyak laki-laki datang silih berganti. Nama lelaki itu masih selalu ada dalam do’anya, mendo’akan agar dia selalu bahagia, nama laki-laki itu masih selalu tersebut disela isak tangisnya. Betapa Renata pernah sangat mencinta, menunggu meski tak pasti. Namun memutuskan untuk menolak dan pergi, saat cintanya itu datang kembali. Renata terlanjur beku.

 Renata duduk disofa coklat, menghadap kelalu-lalang kendaraan dibawah sana. Sesekali hempasan angin mengibas rambutnya yang tergerai.
  “Hai Re, sory ya lama. Macet banget” seseorang menepuk punggungnya dari belakang, Renata hanya menyungging senyum saat seorang wanita duduk didepannya.
 “Macet dimana? Dijalan atau macet dikamar karna kelamaan dandan?” Renata berkelakar dengan wajah datar.
Begitulah raut wajahnya sejak bertahun-tahun yang lalu, sesekali menyungging senyum, namun tak pernah sekalipun tertawa lepas. (bersambung...)

0 komentar:

Posting Komentar

 
;