Romantis tak harus selalu pantai, tak harus selalu senja, tak harus selalu biola, tak harus secangkir teh diberanda. Romantis bisa apa saja. Aku merasakannya hampir seluruh waktu semenjak aku mengenalnya. Merasakan suasana romantis meski dunia mencibir dan mencela.
Ya, rasaku masih utuh. Sejak petama aku mengenalnya, 10 tahun yang lalu. Dia adalah gadis paling luar biasa, sosok yang tegar jiwanya, lembut hatinya, santun, ceria, manis, entahlah kata-kata apa lagi yang harus aku ucap untuk menggambarkan sosoknya. Dia terlalu sempurna.
Romantis tak harus dengan berlari bersama ditengah hujan. Berkejaran lalu saling berpelukan. Tidak. Romantis juga tidak harus selalu setangkai mawar dan sekotak coklat. Tidak pula makan malam dengan cahaya lilin dalam keremangan.
Awal perkenalan kami adalah suatu kebetulan. Kebetulan yang telah direncanakan Tuhan. Ketika aku menatapnya, gadis yang duduk seorang diri diruang tunggu bandara. Aku tidak menyapanya, hanya tersenyum ketika mata kami tanpa sengaja saling bertemu. Dan kala itu senyumku tak berbalas.
Dan benar jika Tuhan telah menggariskan takdir setiap hambanya. Takdir baik, takdir tak baik. Dan aku menyebut ini takdir baik, ketika ternyata tempat dudukku dipesawat adalah disebelahnya.
Perlukah kugambarkan sosoknya? Sosoknya 10 tahun yang lalu, gadis berkacamata yang tampak cerdas, terlihat dari garis wajahnya. Jilbab hitam, setelan celana jeans dan blezer coklat muda. Manis sekali. Dan aku yakin, kini sosoknya lebih manis dari 10 tahun yang lalu.
Pertemuan singkat itu adalah awal dari takdir baik antara kami. Dan takdir baik berikutnya adalah, kami memutuskan untuk mengikat hubungan dalam pernikahan yang suci, tentunya setelah beberapa kali pertemuan dan komunikasi yang intens.
Pernikahan yang indah, dia semakin memesona dalam balutan gaun putih. Dia sangat menawan. Dia membuatku jatuh cinta berkali-kali.
Sekarang, 10 tahun berlalu, romantisme awal-awal pernikahan dulu masih hangat terasa. Segalanya masih erat melekat diingatanku. Tentangnya, tentang kebahagiaan kami pada masa itu, dan selamanya.
Meski kini aku harus menikmati romantisme dengan cara yang berbeda. Ya, satu bulan setelah hari bahagia pernikahan kami lewati, aku harus merubah semua romantisme yang dulu kami nikmati seperti kebanyakan pasangan bulan madu lainnya.
Aku tetap ingin merayakan hari-hari indah bersamanya. Dan aku melakukannya selama 10 tahun sejak satu bulan setelah menikahinya. Seperti sore ini, sepulang kerja, aku duduk disamping makamnya, membacakan Yasin sambil mengusap nisannya dan berbisik, 'aku masih mencintaimu, sejak dulu pertama bertemu, hingga kini, dan selamanya'.
-Puan ryanna-
-Puan ryanna-

0 komentar:
Posting Komentar