Rabu, 18 Juni 2014

Autumn, here I am... part II

 “Sialan lo...” wanita itu mengibas tangan sambil tertawa renyah. Wanita dengan minidress motif bunga warna biru muda, dengan dandanan yang manis dan wajah yang ceria, wanita berusia 29 tahun, jelas jauh lebih muda daripada Renata. Wanita itu mengingatkan Renata pada masa lalunya, seperti itulah dirinya dulu. Wanita itu Fiola, sahabat karibnya.
 “Ada apa, tumben ngajakin ketemuan?” ucap Renata sambil menyesap greentea ice-nya.
“Mau ngajakin ngegosip dong, kan udah lama ngga ketemu, ngga ngegosip”
“Dasar bigos...”
  “Apa tuh bigos?” Fiola mengernyitkan dahi
“Biang gosip, Bu...” Fiola tertawa, sementara Renata seperti biasa hanya menyungging senyum.
 Fiola adalah seorang model, juga presenter pada sebuah stasiun TV swasta. Sebuah profesi yang menuntutnya untuk selalu terlihat cantik dan memesona.
 Sedangkan Renata adalah mantan publik relation pada sebuah perusahaan properti ternama, yang kini memilih membebaskan dirinya untuk mengerjakan apa yang disukai. Dan Renata memilih jalannya untuk menjadi penulis lepas, juga make-up artist profesional dan fashion stylish. Berbekal bakat yang dimilikinya, Renata pun berhasil mendapat kepercayaan dari sekian banyak customer, Fiola salah satunya, dari situlah persahabatan mereka terjalin.
  “Kemarin ada yang nyamperin gue, Re. Nyariin lo”
  “Oh ya, siapa?” Renata berkata tanpa menatap pada Fiola, karna terlalu sibuk dengan kacang mede panggang kesukaannya.
 “Heza... inget?” Renata berhenti mengunyah, mencoba mengingat-ingat nama itu. Lalu menatap pada Fiola dan menggeleng.
“Aduh, payah banget sih ingatan lo, Re.”
  “Heza, cowok yang kenalan sama kamu pas aku ada sesi foto di pantai” sambung Fiola, mengingatkan.
  “Oh, itu. Ketemu dimana?”
 “Di pantai lagi, kemaren gue ke pantai sama cowok gue”
  “Oh...” Renata kurang tertarik dengan obrolan ini. Baginya Heza bukanlah sosok yang penting untuk diingat. Hanya sebuah ketidaksengajaan yang membawa mereka pada perkenalan.
 Renata yang waktu itu tengah menunggu Fiola dipotret, sambil sesekali memperhatikan make-up dan pakaian yang dikenakan Fiola dari kejauhan, samar-samar mendengar alunan biola yang merdu. Sangat merdu hingga terasa begitu menyayat. Saat mendapati sosok yang bermain biola tersebut, Renata memperhatikan permainannya hampir tanpa berkedip. Seperti kekuatan magnet yang saling tarik menarik, bahwa ketika seseorang kau perhatikan maka dia akan balik memperhatikanmu. Dan itu terjadi pada Renata.  Ketika pria itu balik memperhatikan, Renata mengacungkan jempol padanya dan menyungging senyum tipis. Tanpa diduga, laki-laki itu menghampirinya. Laki-laki berwajah oriental, rambut lurus agak sedikit panjang dan berwarna jingga, semakin menjingga karna tertimpa cahaya matahari senja. Sweater putih tipis yang dikenakannya mengesankan kesederhanaan pada diri laki-laki ini.
 “Thank’s jempolnya” ucapnya kala itu. Renata hanya mengangguk dan akan beranjak pergi saat Fiola memanggilnya, namun langkahnya tertahan saat pemuda itu bertanya namanya.  “Aku Heza, nama kamu siapa?” Renata hanya menoleh sesaat dan melempar senyum tanpa memberi jawaban. Bukan berlaku sombong, tapi begitulah dia, begitulah sifat Renata yang sekarang, Renata yang beku hatinya.
“Re please dong, nggak ada makhluk perempuan seumuran lo dan masih jomblo dimuka bumi ini. Siapa sih yang lo tunggu? Jangan tertutup gitu dong Re” nasehat yang keseribu dan bunyinya  masih tetap sama.  Ingin tau siapa yang dia tunggu? Tidak ada. Ya, tidak ada... hanya menunggu waktu, waktu yang berlalu dan membawa serta puing-puing kenangan. Kenangan bersama Adnane yang mengkristal dihatinya. Entah sampai kapan... ***

 Aroma white coffe menguar menelisik penciumannya. Renata meraih ponsel dimeja kecil samping ranjang, pukul tujuh pagi. Renata masih meringkuk dibalik selimut putih, tirai yang melapisi jendela kaca sudah sedikit tersibak. Renata mengedarkan pandangan kesekeliling kamar dan mendapati sosok itu berdiri disana, didepan pintu kamarnya, jemarinya menggenggam gagang cangkir berisikan hot coffe.
“Bangun tuan puteri, jangan mau kalah sama matahari.” Dia melangkah dan duduk ditepi ranjang. Perkenalkan, dia adalah Diaz. Lelaki berperawakan tinggi, berkulit putih bersih, dada six pack, berwajah khas Belanda, berlogat bicara ala belanda, padahal dia keturunan batak tulen. Body nya jauh lebih mengesankan daripada Aadnane. Ah, pentingkah membandingkannya dengan Aadnane? Rasanya tidak. (Bersambung...)

0 komentar:

Posting Komentar

 
;