Disisa usiaku, bukan lagi kesempurnaan yang kucari, bukan lagi ketampanan atau derajat tinggi. Aku mengharapkan lelaki bersayap satu yang akan melengkapi sayap patahku. Setia dan ada untukku, bertahan dengan manja dan kekanak-kanakanku, dia yang menikmati senja bersamaku, dia yang menjadi pelindung dan penenangku, dia yang mengimbangi keras hatiku, dia... yang masih entah dimana...
Nak, jalan yang harus kita lalui masihlah panjang, teramat panjang... meski kita tak berjalan beriringan, tak berjalan bergandengan, tapi yakinlah bahwa tujuanku adalah untukmu, bahwa ditiap-tiap tatih langkahku adalah untukmu, untuk mendampingi langkahmu. Apa lagi yang kita punyai jika bukan keyakinan, cita dan cinta yang penuh menyesaki hati? Nak, jika nanti aku terjatuh, yakinkan aku bahwa aku harus terus dan terus bangkit untuk tetap mendampingimu hingga habis usiaku... -Puan Ryanna-
Kertas-kertas
masih berserakan dimeja kerjaku ketika deru iring-iringan helli dilangit sana
seolah membelah keriuhan bumi. Hatiku ikut bergemuruh, Diaz telah berlalu
menembus onggokan awan, membawa sesak didada yang belum terpupus karna
persoalan semalam.
Selamat
bertugas kembali, hati-hati disana, jaga kesehatan.
Pesanku
melalui SMS yang mungkin tidak lagi dihiraukannya, atau mungkin akan dibacanya
ketika nanti sampe di pulau kecil tempatnya mengabdikan diri pada seragam biru,
sebiru lautan menghampar yang membentangkan jarak antara kami.
Nada angkuhnya masih membekas
diingatanku, semalam dalam perdebatan yang belum berujung, Diaz lebih memilih
diam dan memalingkan pandang dari pada harus mencari jalan keluar dari
persoalan. Itulah Diaz, Diaz ku yang keras, Diaz ku yang tak pernah mau
mendengarkan sedikitpun, apapun yang aku ucapkan. Tapi biarpun begitu kerasnya,
dia tetaplah Diaz ku, Diaz yang menjaga, mendamaikan, dan memberikan kehangatan
senantiasa bagiku. bersambung...
Langganan:
Komentar (Atom)



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact