Kertas-kertas
masih berserakan dimeja kerjaku ketika deru iring-iringan helli dilangit sana
seolah membelah keriuhan bumi. Hatiku ikut bergemuruh, Diaz telah berlalu
menembus onggokan awan, membawa sesak didada yang belum terpupus karna
persoalan semalam.
Selamat
bertugas kembali, hati-hati disana, jaga kesehatan.
Pesanku
melalui SMS yang mungkin tidak lagi dihiraukannya, atau mungkin akan dibacanya
ketika nanti sampe di pulau kecil tempatnya mengabdikan diri pada seragam biru,
sebiru lautan menghampar yang membentangkan jarak antara kami.
Nada angkuhnya masih membekas
diingatanku, semalam dalam perdebatan yang belum berujung, Diaz lebih memilih
diam dan memalingkan pandang dari pada harus mencari jalan keluar dari
persoalan. Itulah Diaz, Diaz ku yang keras, Diaz ku yang tak pernah mau
mendengarkan sedikitpun, apapun yang aku ucapkan. Tapi biarpun begitu kerasnya,
dia tetaplah Diaz ku, Diaz yang menjaga, mendamaikan, dan memberikan kehangatan
senantiasa bagiku. bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar