Rabu, 11 Desember 2013

DeLta Part I



Kertas-kertas masih berserakan dimeja kerjaku ketika deru iring-iringan helli dilangit sana seolah membelah keriuhan bumi. Hatiku ikut bergemuruh, Diaz telah berlalu menembus onggokan awan, membawa sesak didada yang belum terpupus karna persoalan semalam.
            Selamat bertugas kembali, hati-hati disana, jaga kesehatan.
Pesanku melalui SMS yang mungkin tidak lagi dihiraukannya, atau mungkin akan dibacanya ketika nanti sampe di pulau kecil tempatnya mengabdikan diri pada seragam biru, sebiru lautan menghampar yang membentangkan jarak antara kami.
            Nada angkuhnya masih membekas diingatanku, semalam dalam perdebatan yang belum berujung, Diaz lebih memilih diam dan memalingkan pandang dari pada harus mencari jalan keluar dari persoalan. Itulah Diaz, Diaz ku yang keras, Diaz ku yang tak pernah mau mendengarkan sedikitpun, apapun yang aku ucapkan. Tapi biarpun begitu kerasnya, dia tetaplah Diaz ku, Diaz yang menjaga, mendamaikan, dan memberikan kehangatan senantiasa bagiku. bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar

 
;